Hallo. :)
Bukan, bukan aku menggagnggu hariku sendiri. Ini kewajiban, kita hidup diwaktu yang sama maka izinkanlah aku menyapa :)
Hei kamu, iya kamu, kamu apa kabar? kamu lagi apa? kamu sekarang dimana? sama siapa? hei cinta pertama.
Pernahkan kalian merasakan degup kerinduan akan senyumnya si Cinta Pertama. Banyak orang bilang, cinta pertama takkan terlupakan. Iya, aku pun iya! Dia selalu ada disini, disini loh *nunjuk dada* *senyum goceng*
Seburuk apapun dia, dia yg pertama membuat kita bilang "I Love You" :) percaya kan? pasti.
Tapi banyak juga dari kalian yang sampe sekarang masih merasakan hangat derasnya rancuan cinta dari si Cinta Pertama itu, asikdeh pasti masih berbunga-bunga. Di pertahanin yaa! :)
"Takdir adalah seni yang dimainkan Tuhan"
Ya, yang namanya pertemuan pasti berujung perpisahan. Apapun bentuknya. Tuhan menggariskan kita disatu garis keinginan yang besar. Tapi kita manusia, bisa apa?
Kita hanya menjalani yang diperintahkan Tuhan, yang diinginkan belum tentu yang dilakukan dan juga belum tentu yang didapatkan.
Sebenernya saya gak mau berkicau tentang Cinta Pertama. Takut kangen.
Cieee.. yang baca mulai kangen deh sama Cinta Pertamanya.
"kenangan cinta pertama itu tak akan pernah bisa disembunyikan" -Dwitasari
Umm.. untuk sekedar bercerita dan berkicau dengan dia boleh yaa.. jangan bosan untuk baca ini.
Mungkin,
kau tak akan pernah membaca ini, melihat sekejap matapun tidak mungkin,
apalagi membaca hingga paragraf akhir. Mungkin, kau tidak mengetahui
usahaku untuk menulis ini, usahaku untuk mengundangmu kembali berotasi
diotakku, mengelilingi poros otak tengah, menjalar ke otak kiri, lalu
membias ke otak kanan. Tak ada dasar apapun dan tak ada alasan apapun
yang menjelaskan mengapa aku harus membiarkan jemariku menari dan
kembali menuliskan semua hal tentangmu. Seseorang yang sempat
mengendap dalam sel otakku, seseorang yang pernah terlupakan oleh
jemariku yang dulu sering menuliskan tentangmu.
Jika
aku bercerita bagaimana pertemuan awal kita hingga perpisahan kita,
mungkin tulisan itu akan terakum sempurna menjadi sebuah roman, yang di
dalamnya terdapat tokoh sentral. Hanya aku dan kamu, bertemu,
berkenalan, berteman, bercanda, bergembira, jatuh cinta, indah, dan
berpisah. Jadi, aku tidak akan bercerita tentang itu. Tunggu dulu!
Bukannya aku melupakan kenangan itu, aku hanya ingin membuat semua
paragraf menjadi sangat berisi dan efektif, walaupun sekali lagi mungkin
kau tak akan membacanya.
Ah.. Hatiku sudah terlalu tersumbat untuk menulis ini. Sebenarnya aku sakit, aku sakit merindukan dia.
"Dia beri aku seribu bidadari, tapi aku memilih kamu"
Semoga kamu disana tidak lupa denganku, dan cinta kita yaa :)
Untuk: Dian
Love,
Pengulang Masalalu, Rizki

No comments:
Post a Comment