Thursday, January 1, 2015

Dua Puluh

(1) Kamu pun tahu, semula tidak saling ingin tahu, seketika menyatu. Seperti sepatu, aku tidak pernah berharap yang lain meninggalkan yang satu.

(2) Sederhananya, kamu adalah hujan badai, dan aku menjelma pohon yang tersambar petir.

(3) Mungkin, masuk akal tergantung akal siapa.

(4) Ketakutan di matamu, kecemasan di keningku. Selalu ada cara untuk tetap berpelukan hari ini. Percayalah, aku benci tidak memelukmu.

(5) Aku selalu memberikan kebebasan kepadamu untuk meninggalkanku kapan saja, namun, jika kamu ingin tetap bersamaku, kita akan bergandeng tangan hingga entah. Ketulusan di dalam aku memelukmu hingga terserah.

(6) Segila apapun relasi ini, aku berharap tidak pernah menjadi waras. Seperti hanya bisa tidur bila tertidur.

(7) Seperti sepenggal lirik yang entah manis dari sisi mana, "starving artist, no match for a queen". Tetapi menjadikanmu alasan untuk terus berjuang adalah perihal paling penting, "because you love me at my worst"

(8) Berceritalah kepadaku, aku ingin kamu begitu. Mengeluhlah kepadaku, aku ingin kamu begitu. Tentang apapun, buatlah aku berguna, aku mohon.

(9) Selalu ada yang bisa kudengar, ketika malam memeluk sepi, bintang merajut tangan-tangan sunyi, menjanjikanku memujimu lebih baik dari sekedar puisi.

(10) Mimpi-mimpi penghias kisah marjinal, pembangun istana bertiang tinggi. Jangan bangunkan aku.

(11) Aku tidak menuntutmu untuk tersenyum, menangislah. Air matamu, perpustakaan duka yang tidak pernah selesai aku baca.

(12) Seolah aku mampu membenahi alur yang terjadi. Percayalah, kita adalah obat dari luka masing-masing. Kamu hanya basah, luka ini perlu kita basuh.

(13) Terimakasih telah mendengar saat kumengeluh, padahal kamu pun sedang berada dalam peluh. Terimakasih telah membelai saat kukecewa, padahal kamu pun tengah ada dalam gelisah.

(14) Aku siap menjadi penuntun saat terbuta, payung saat hujan dan terik, penerang saat berjalan dalam lorong gelap, penegur saat terlena, pendengar setia saat bercerita tentang segala, pengangkat saat terpuruk.

(15) Sempatkanlah untuk memimpikan aku saat kamu tidur, selayaknya aku yang selalu memohon untuk dapat melihatmu dalam mimpi.

(16) Aku harap, ada yang benar-benar kita selesaikan, bukan seperti memeluk api tanpa terbakar atau menyelam tanpa kuyup.

(17) Dunia sudah lebih pedih sebelum kamu menangis. Tersenyumlah, manis.

(18) Aku selalu percaya, hidup tidak selalu sederhana. Semoga kita bahagia dan tidak pernah punya alasan apapun untuk saling tidak peduli.

(19) Saat aku melukis hujan, aku selalu membayangkan kamu ada; menari di bawahnya.

(20) Suatu saat akan tersampaikan, meski aku tidak pernah menyampaikan. Kamu akan mengetahui semuanya langsung, dari hujan yang turun dengan sangat sedihnya. Aku mencintai segalamu, aamiin.

--

Selamat ulang tahun, Non Eva. Genap sudah dua puluh tahun, bukan perkara mudah menjadi dewasa, terlebih untuk tetap bahagia di masa yang terbilang sulit sebenarnya. Jangan lelah menjadi baik, aku mencintai segalamu. Di kalimat ini, kamu perlu mengamini apa yang sudah kuceritakan pada Tuhan sebelumnya, tentang kamu dan kebaikan kita pada masa depan. Sekali lagi, selamat ulang tahun, Sayang. Jangan pernah redup.

No comments:

Post a Comment

< > Home
posudara © , All Rights Reserved. DESIGN BY Sadaf F K.