Monday, October 24, 2011

Ulang tahun adik, bau masa lalu.

'Kriinggg....!!'

Ya, seperti biasa, alarm butut ini yang membantuku bangun dari jeratan kasur empuk dan mimpi suntuk. Sama seperti hari-hari lainnya ini terlihat tidak terlalu buruk. Aku bangun tepat waktu.
Aku bukan seorang wanita, yang membutuhkan waktu berjam-jam hanya untuk memoles wajahnya yang sebenarnya sudah terlihat cantik tanpa embel-embel ini itu.

Hari ini hari sabtu, untuk angkatan kelasku hari ini aku terjadwal masuk siang. Setelah dzuhur.
Oiya, namaku Rizki, mereka memanggilku dengan panggilan nyeleneh, Boril. Aku anak kejuruan disalah satu SMK di Jakarta, agak aneh, rambut acak-acakan, bola mata.. hmm biasa saja, kalian tidak perlu tau juga. Toh aku tidak spesial untuk dikenalkan.

Kembali untuk pemikiran hari ini, aku biasa. Ya, memang setiap hari seperti ini.  Ayahku berangkat pukul 8 pagi ini untuk meng-kristalisasi-kan keringatnya hingga aku bisa makan untuk hari ini. Besok? lain lagi ceritanya.
Hmm, mungkin aku bisa bermalas-malasan untuk 6 jam kedepan. Yeah!

**

Ini biasa saja sampai ketika handphone-ku bergetar, sepertinya ada sms. Tertera dilayar kusam itu, 'Rama', iya itu nama adikku. adik kesayanganku. Aku seperti malas membuka sms itu. Tapi masa iya aku diamkan hingga bermunculan sms-sms baru dengan tulisan yang sama?

'Kak, besok kan aku ulang tahun. Mau kasih kado apa?'

#deg

Bergegas kebodohanku menatap kalender didinding kamar penuh coretan ini, hari ini tanggal 22 Oktober. Dan iya, besok adalah 23 Oktober, dimana bocah ingusan yang kusebut adik itu terlahir pada 9 tahun lalu.

Kenapa adikmu mengirim sms padamu?
Kenapa ia tidak bicara langsung saja? 
Ada jarak kah?

Jawabannya ada pada ego masing-masing dari orang tua kami. Mereka pasangan yang cukup serasi, untuk waktu 12 tahun aku merasakannya. Kini? Entah, aku tidak mau mengingatnya. Asap bau masa lalu selalu menghancurkan fikiranku untuk merenggut kebahagiaanku. Kehidupanku cukup membosankan saat kelengkapan dari orang tuaku lenyap entah ditelan siapa.

***

Gugur kenangan itu selalu saja mengitari poros otakku hingga menjalar ke keseluruhan pada fungsi jantungku untuk bernafas. Nadiku tergoyahkan masa lalu, aku lemah. Kebahagiaanku dimana? Selalu saja aku berteriak pada Tuhan dalam setiap sujudku. Selalu saja aku dicemburui rasa keinginan untuk memeluk dan mencium tangan ibuku sehendak ku ingin berangkat mendulang putih cita-citaku dari sekolah itu, seperti dulu.

Ah!
Aku bosan menceritakannya pada angin, debu, bayangan dan tembok-tembok yang sudah beberapa kali menjadi temanku berbincang. Sedikit gila mungkin.

Hmm,

Aku mendorong kuat-kuat masa kelam itu, berharap keluar segera dari otakku agar aku bisa normal lagi dalam bergikir, menelaah dengan baik. iya.

Segera aku membalas sms itu.
'Oh iya, inget kok. tapi gue lagi gak megang duit. nanti yaa kadonya nyusul, janji kok /:)'

adikku memang sosok tulus dan pengertian
'Iya ka. tapi janji yaa'

Aku menyudahi sms itu. aku malas terlalu lama merasakan jahitan dari perihnya luka lalu.
Setelah itu sebenarnya aku ingin menceritakan pada ayah. Tapi untuk apa? Aku tidak mau beliau membasahi matanya dan pura-pura kemasukan debu. Aku tidak tega.

-

Semoga masa lalu bukan jadi hambatan aku dan adikku untuk lebih menggebu dalam menuai cita yang dituju. aku yakin itu.

Tuhan, Kau dengar segala do'aku kan? 

No comments:

Post a Comment

< > Home
posudara © , All Rights Reserved. DESIGN BY Sadaf F K.