Sunday, December 4, 2011

Mama, benar aku merindukanmu. | #dearmama

Halo, Ma. Apa kabar? Semoga baik selalu ya. Oiya, bagaimana dengan Adik? Aku harap dia juga baik dan bisa menjaga juga menamani Mama disana disaat aku gak ada.

Ma,

Apa Mama masih ingat kenakalan yang aku lakukan ketika kecil? Aku sering membuatmu jengkel setiap saat ketika aku tidak menuruti pintamu. Bahkan saat ini aku bisa lebih membuatmu jengkel dan menangis. Semua itu mengingatkanku atas segala pengorbananmu, Ma. Bangun malam untuk memberi susu atau sekedar melihat apa ada nyamuk nakal yang hinggap dikulitku. Aku ingat sentuhan muliamu, Ma. Dan aku merindukan itu

Aku yang dulu mungkin anak baik yang lugu, sekarang aku sudah sedikit banyak berubah, Ma. Aku mulai dewasa. Aku mulai tidak bisa mengontrol emosiku. Jiwa ini tersesat tanpa bimbinganmu. Aku merasakan kurangnya perhatianmu. Aku ingin seperti dulu, Ma. Aku butuh sosok ramahmu, sosok yang mampu mengerti keadaan hitamku disaat aku butuh kasih sayang seorang Ibu. Engkau yang paling mengerti aku ini seperti apa..

Aku rindu.

Aku rindu untuk mengucap salam dan mencium tanganmu setiap aku berangkat ke sekolah yang membimbing kedewasaanku. Aku rindu setiap malam engkau yang membantuku mengerjakan tugas-tugas sekolahku. Dan itu dulu.

Apa engkau pernah berpikir untuk kembali? Itu pertanyaanku sampai saat ini. Aku, aku masih belum mengerti kenapa Tuhan menjauhkan jarak kita sebagai keluarga. Aku masih belum mengerti kenapa di dunia ini aku terlahir untuk menjadi sosok seperti ini, aku masih mau mengerti, Ma.

Aku pikir, ketika aku masih digenggam Tuhan lalu aku dilahirkan, hidup itu seperti tertawa dan bahagia. Ternyata kehidupan lebih merepotkan dan menyaktikan dibanding apa yang sering aku impikan. Apapun itu, aku coba untuk tersenyum, semata agar engkau tidak menangis karena tangisanku, Ma. Aku tidak sebodoh itu, aku manusia, engkau manusia. Mengertilah aku.

Beberapa tahun lalu, disaat aku dibuat bingung dengan apa yang terjadi dalam keluarga ini. Aku bingung apa yang kalian perdebatkan setiap malam. Dan pada akhirnya di pertengahan tahun 2009 itu semua terjadi, Mama memutuskan untuk pergi meninggalkan keluarga ini, meninggalkan kita demi keluarga baru. Apa itu tidak menyakitkan, Ma? Aku terluka, sangat.

Aku sempat membencimu, Ma. Saat itu aku sangat membenci semua sikap, dan senyummu bagiku adalah kesakitan yang harusnya tak harus kulihat saat itu. Apa engkau tak memikirkan aku pada saat itu? Ya, aku. Aku, anakmu, Ma.
Sudahlah, itu keputusanmu.

Ma, aku benar merindukanmu.

Aku rindu nasihatmu. Aku rindu ocehanmu. Semuanya takkan bisa aku ungkap, hanya pandanganku yang mampu bercerita padamu, maka lihatlah aku!.
Kini aku sadari engkau tak lagi disini. Lebih memilih hidup dengan keluarga baru yang bisa membawamu lebih bahagia, mungkin. Dan jujur, aku benci itu.

Aku terkadang merindukan sosok Ibu, selama ini yang aku dapatkan adalah sosok kekasih yang setia dan teman abadi hingga aku menuju mati.
Dan ada hal yang harus orang lain iri padaku, aku memiliki wanita istimewa seperti Mama. Tetap begitu yaa, Ma.

Aku menulis surat ini tak semudah aku menulis surat lain, Ma. Semua kata berhenti ketika aku ulang semua memori dulu, memori bahagia ketika anak kecil sepertiku ini merasakan pelukan seorang Ibu. Sekarang tinggal kenangan. Biar aku simpan saja untuk nanti menjadi teman dimasa depan, disaat engkau memang benar meninggalkanku dan lebih memilih dipangku Tuhan.

Terimakasih sudah melahirkan anak bajingan ini. Terimakasih sudah merelakan keringat berceceran hanya untuk menghidupi anak berbadan kurus ini. Terimakasih sudah mengajarkan aku cara bersyukur dan mengenal Tuhan. Terimakasih atas segala. Aku belum bisa memberimu sesuatu yang berharga, kenyataannya pun aku takkan bisa. Tapi aku coba.

Hmm,
Yasudah, aku letih mengeluarkan air mata untuk surat ini. Aku lelah memutar kenangan kita. Aku lemah.

Surat ini aku tulis malam hari, dimana harusnya anak lain sepertiku sudah tidur. Surat ini aku tulis bersama semua do’a terbaik untuk wanita paling berharga dalam hidupku ini.

Aku sayang Mama.

3 Desember 2011
Dari Rizki,
Untuk Mama.
--------------------------
berpartisipasi dalam #dearmama untuk project baru dari #dearbooksproject yang disponsori oleh @nulisbuku
banggalah kalian atas ibu kalian. percayalah, dia wanita terhebat.

No comments:

Post a Comment

< > Home
posudara © , All Rights Reserved. DESIGN BY Sadaf F K.