Mataku berlari, seperti mengejar petir
Telingaku hampir pulas, bunyi puisi dari kerikil yang membuat kaki terkilir
Dadaku sunyi, mungkin panggung tentang sandiwara telah berakhir
Nyanyian hujan, o, nyanyian hujan!
Kamu tidak benar-benar melihat hujan, kamu hanya melihat matamu sendiri
Kamu terluka, basah, basah semua
Lukamu pedih
Lukamu perih
Lukamu sedih
Bernyanyilah, biarkan yang lain tuli.
Jadilah buta yang paling bijaksana.
No comments:
Post a Comment