Jika aku adalah apa yang aku ucapkan. Maka akan selalu aku ucapkan "Aku Mencintaimu" . Karna memang aku terlahir untuk itu. Dan jika memang kau terlahir untuk dibenci. Tenang, sayang, aku pun disini terlahir untuk membawamu mati: bersamaku.
Senja saja mampu menjadi merah saga, tapi aku tak peduli lagi itu. Karena diwajahmu ada segalanya yg mampu menyaingi warna saga: senyummu.
Dan bila kau ingin tau hatiku, sebrangilah lewat air mataku. Dari situ kau akan tau seberapa berat aku yang mengagumimu.
Hingga waktu nanti akan membangunkanku dari tidurku, dan saat aku membuka mata, kau ada disampingku: memelukku. Dan yang menjadi saksi adalah seorang pria yang memegang tanganku dan mengajariku mengikrarkan kau adalah 'istriku'.
Dan senyum airmata disekeliling kita akan jadi saksi betapa indah nya insan yang hanya bisa merindu kini menjadi satu. Yang kufikirkan adalah "Ya, pasti aku bahagia".
Kau pun merekah merona layak mawar yang dihembus sang udara. Melambai indah menari di tengah kerumunan ilalang. Tak peduli banyak kumbang yang menghampirimu, karna kau telah berjanji: akulah madumu.
Yang aku nantikan adalah ketika waktu berjalan membawakan sepercik harapan bahwa ada masa depan untuk kita buktikan, kitalah segalanya.
Hingga nanti ada sepasang bayi kecil menangis dimalam hari, meminta kasih sayang dari figur yang disebut "ibu", itu kamu, sayang.
Berterimakasihlah pada hujan, sayang. Karena ialah bagian dari cara kita menatap masa depan. Dari hujan aku menitipkan sebuah perahu kertas, kau pasti ingat itu. Dilayarnya tertera namamu yang kuhiasi dengan tinta kerinduan atas dirimu.
Bertahun-tahun sang waktu membawa perahu kertas itu hingga sampai pada titik di celah keangkuhanmu yang dulu menepisku.
Aku rindu itu, rindu masa masa kau menepisku. Hingga aku berjuang sepenuh hati untuk mendekapmu. Ya, saat itu kau memang kusebut "ratu" yang menguasai istana hatiku, yang kubangun dengan indah bersama bait ketegaran dari angkasa.
Tapi suatu saat aku sadar, betapa indah kau menepisku, karna dari situ aku belajar untuk lebih tegar mengindahimu lebih dari apapun.
Dari situ aku mulai dengan harapan yang besar agar kau bisa juga mengindahiku sebagai mana yang aku lakukan untukmu. Tanpa balasan aku mencintaimu.
Dan kini perjuanganku di garis finish adalah kau menjadi ratu dihidupku, dan masa depanku. Aku tak ingin terbelit-belit lagi dalam suatu keputusan yang tak terambil. Lebih baik aku terus terang, biar matahari, langit, gunung, pepohonan, udara, lautan , alam dan Tuhan menjadi saksi aku ingin ucapkan "AKU MENCINTAI RATUKU" : Kamu.
-arizki-
31, Maret 2011
15:11
No comments:
Post a Comment