*pip* telefon dimatikan, aku gelisah.
hujan turun, mataku tiba-tiba basah.
Kurapikan rambutku, kupakai jaket kesukaanku dengan warna yang kamu bilang adalah warna favoritmu. Bersama gelisah aku berusaha beranjak dari cengkeraman nafsu buruk memasuki alam mimpi, karena memang sudah malam dan lelah berdatangan. Tapi, kabar darimu membuat aku cemas. Bingung? iya.
Kunyalakan sepeda motor hadiah ulang tahun ke-17 dari Ayahku, pria tua yang hanya bermodalkan cangkul untuk menghidupi keluarga.
Pukul 23.04 WIB, Jum'at mal;am, hujan.
Hanya bisa berharap keadaan Ibumu masih baik.
60km/jam, cipratan dari air hujan, bau yang akrab tercium dari tanah yang lembab karena hujan. Aspal basah yang membuatku menurunkan kecepatan laju sepeda motorku. Dan tetap, aku masih berharap Ibumu baik saja disana.
Tiba dirumahmu, rumah berwarna putih dengan sedikit hitam pada bagian bagasi. Gerbang hitam yang―entah mengapa―selalu sedia terbuka untukku, atas kemauanmu.
Sekujur badanku basah kuyup, gemetar seperti rindu kehangatan. Kamu muncul dari balik pintu dengan senyum sedikit pilu, membawa handuk dan memberikannya padaku.
"Kenapa gak tunggu hujan reda?" kecewamu.
"Aku terlalu rindu senyum beliau, juga kamu" balasku sambil tersenyum, dan segera mengeringkan tubuhku yang sedari tadi dibasahi hujan.
Kamu menjulurkan lidah sambil malu-malu atas ucapanku, lalu menarik halus tanganku, "Masuk yuk, Ibu udah nungguin tuh"
Dari balik pintu kamar, terlihat Ibu tetap cantik walau tertutup sapu tangan yang dijadikan kompresan di keningnya. Aku masuk, Ibu menyapaku dengan senyum. Memang selalu begitu. Beliau aku kenal dengan senyumannya dan keramahannya, juga kue manis―yang menurutku memang enak―buatannya itu.
Melihat Ibu tersenyum, seperti melihat dunia berjatuhan dimataku.
Mencium tangan Ibu, seperti merasakan pelukan senja disaat tubuhku gelisah.
Mendengar nasihat Ibu, seperti suara nyanyian burung membangunkan padi dengan senyum.
Aku menyayangi Ibu, seperti aku menyayangi kamu. Aku merasa amat beruntung kehadiranku diterima Ibu, kata Ibu, aku pengganti almarhum Ayahmu yang sudah tersenyum dan bermain cahaya di surga sana.
Aku tersenyum.
Mungkin persis, tapi tidak akan sama.
Beliau terlalu hebat untuk kugantikan dengan segala jauh sikapku dengannya. Aku hanya berusaha menjagamu, dan Ibu.
Kini Ibu terbaring lemah. Sayup-sayup matanya seperti memanggilku untuk melihat sedikit cahaya didalamnya. Aku menangis
Cepat sembuh, Ibu, aku rindu senyum Ibu, kue manis buatan Ibu. Juga terimakasih untuk 19 tahun lalu, telah melahirkan wanita cantik yang cantiknya kini bersaing berusaha mengalahkan kecantikanmu. Dan aku berjanji menjaga dia, juga Ibu. Hatiku mulai bergeming,
"Aku sedih karena Ibu sakit" hujan diluar, hujan dimatamu.
"Kalau kamu sedih, Ibu nanti ikutan sedih. Senyum dan berdoa saja untuk Ibu" bisikku.
Menyandarkan perihmu pada pundakku, sambil terpejam.
"Kamu gaboleh tinggalin aku sama Ibu ya", pipimu basah.
"Iya",
Aku tersenyum, sekuat hati menjaga agar tidak ada airmataku yang jatuh dihadapanmu. Dalam hal ini aku tidak ingin menyusahkan perasaanmu dengan menangisnya aku.
Sayang, aku ada disini bukan untuk kesenanganku. Aku bahagia menjagamu, juga Ibumu―yang sudah kuanggap Ibuku sendiri. Pengganti Ibu kandungku yang kini sudah menjaga doa-doa yang kukirim setiap sujudku. Semoga Ibuku disurga bertemu dengan Ayahmu, dan tersenyum melihat kebahagiaan kita yang saling menjaga. Amin.
Kamu tertidur di pundakku.
Rambut hitam panjangmu menutupi kesedihan.Kacamatamu masih membuatmu cantik malam itu. Kalau sudah begini, seperti biasa, aku akan melepaskan kacamatamu dan membopongmu masuk kedalam kamarmu―yang aku bahkan bosan melihat beberapa foto kita di atas meja belajarmu, bukankah itu mengganggu konsentrasimu, sayang?
Aku menutup tiga perempat tubuhmu dengan selimut, "Semoga ini bisa menghangatkan tidurmu", gumamku. Lalu mencium keningmu dan membisikkan pelan ditelingamu bahwa aku akan tetap mencintaimu dan merindukan di waktu yang berbeda.
Ibu sudah tidur dengan lemah, kamu juga.
Aku berusaha untuk tetap berjaga, menunggu pagi dan berdoa, semoga esok baik adanya.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment