Wednesday, January 11, 2012

Kota Malam dalam Dua Belas

[ Satu ] Sang bulan terlatih untuk tenang, terang. Mengganti posisi mentari, sudah tugasnya setiap hari.

[ Dua ] Bintang bertaburan, tangan Tuhan merapikan. Satu demi satu mereka jadi serpihan keindahan.

[ Tiga ] Bahu jalan menelan ludah dalam-dalam, melihat adegan pasangan berciuman di arah jam enam.

[ Empat ] Lampu jalan bertugas, warna kekuningan cahayanya memantul bias.

[ Lima ] Karnaval kunang-kunang beriringan, memaksa wajah cemas berubah riang.

[ Enam ] Segerombol anak muda berkumpul, tawa kecil di mulut mereka menyembul. Menertawakan satu sama lain, berbagi melalui batin.

[ Tujuh ] Badan jalan tidak ubahnya sang senja, membuat mata tetap memanja. dan sedikit lebih bersahaja.

[ Delapan ] Jajanan malam merubah hasrat ingin pulang, menjadi seganas beruang.

[ Sembilan ] Para pelacur bersiaga pada bahu jalan, menunggu pelanggan berdatangan, bibir tipis bergincu merah ketebalan berusaha menjadi cantik dan lebih arogan.

[ Sepuluh ] Sesaat aku diam, lalu bergumam, "Bagaimana aku tidak mencintai malam, indahnya saja mampu kugenggam."

[ Sebelas ] Jasad para pendongeng sebagian sudah tidur, sedikit mendengkur, dengan berjuta mimpi yang mulai melebur.

[ Dua Belas ] Dan aku tahu, Tuhan tidak tidur. 

2 comments:

< > Home
posudara © , All Rights Reserved. DESIGN BY Sadaf F K.