[ Satu ] Sang bulan terlatih untuk tenang, terang. Mengganti posisi mentari, sudah tugasnya setiap hari.
[ Dua ] Bintang bertaburan, tangan Tuhan merapikan. Satu demi satu mereka jadi serpihan keindahan.
[ Tiga ] Bahu jalan menelan ludah dalam-dalam, melihat adegan pasangan berciuman di arah jam enam.
[ Empat ] Lampu jalan bertugas, warna kekuningan cahayanya memantul bias.
[ Lima ] Karnaval kunang-kunang beriringan, memaksa wajah cemas berubah riang.
[ Enam ] Segerombol anak muda berkumpul, tawa kecil di mulut mereka menyembul. Menertawakan satu sama lain, berbagi melalui batin.
[ Tujuh ] Badan jalan tidak ubahnya sang senja, membuat mata tetap memanja. dan sedikit lebih bersahaja.
[ Delapan ] Jajanan malam merubah hasrat ingin pulang, menjadi seganas beruang.
[ Sembilan ] Para pelacur bersiaga pada bahu jalan, menunggu pelanggan berdatangan, bibir tipis bergincu merah ketebalan berusaha menjadi cantik dan lebih arogan.
[ Sepuluh ] Sesaat aku diam, lalu bergumam, "Bagaimana aku tidak mencintai malam, indahnya saja mampu kugenggam."
[ Sebelas ] Jasad para pendongeng sebagian sudah tidur, sedikit mendengkur, dengan berjuta mimpi yang mulai melebur.
[ Dua Belas ] Dan aku tahu, Tuhan tidak tidur.
Wednesday, January 11, 2012
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
Nice :)
ReplyDeleteterimakasih X")
ReplyDelete