Halo, apa kabarmu? Hmm, silahkan tertawa. Ini basi. Hanya saja, kamu harus tau, dengan jujur, pertanyaan itu selalu terbentang luas di pikiranku—setiap saat, hingga beberapa ruang di otakku hanya ada pemikiran tentang kamu, kabarmu, dan cintamu untukku. Apakah Ia masih seperti dulu? Aku harap dan aku yakin itu. Kita sudah terbilang lama bercengkrama dengan hal yang orang sebut itu cinta. Oke, pasti sekarang kamu mulai jijik membaca surat ini.
Terkadang aku berfikir―dan mungkin kamu juga, atau mungkin kita berfikir di waktu yang sama―tentang rasa ini dan segala hal yang belum terselesaikan, tentang apakah kita akan seperti ini selamanya, tentang apakah kesetiaan adalah awal dari kebersamaan yang abadi, tentang apakah takdir memang telah memilih kita untuk bersama.
Aku berusaha untuk menjadi peka atas apa yang kamu rasa, tapi kamu lebih memilih caramu sendiri, kamu pernah bilang, kamu akan bahagia bila aku bahagia. Dan jelas sudah, kita bahagia sekarang.
Mungkin kita terlalu bijaksana, hingga semuanya terungkap secara bermakna. Atau mungkin, menurutmu?
Aku hanya berusaha untuk menjadikan kelakuanku adalah simpul bibirmu yang tersenyum. Demi engkau aku ingin tetap berada disini, di tempat kita tertatih bersama dua hati yang bahagia dengan terlatih.
Kamu sedang apa?
Ah maaf itu hatiku yang bertanya, mungkin dia terlalu rindu.
Baik, ku teruskan..
Aku ingat sekali dengan pesan singkat yang pernah kamu kirimkan padaku;
"Anak kita bernama jarak dan rindu, Ki. :p"
Kamu tau? Aku tersenyum membaca tulisan itu. Benar kamu, kita menjalin hubungan ini bersama jarak yang memisahkan antara Jakarta dan Depok. Memang tidak terlampau jauh. Hanya saja kita memang belum bertemu.
Selain itu, banyak lagi tulisan-tulisan di pesan singkat yang mengutarakan tentang betapa inginnya kita untuk tetap bersama di masa depan nanti. Aku bergumam, semoga iya.
Teringat dengan dua kabarmu yang membuatku seketika menjadi diam dan berfikir. Satu, adalah kamu akan pergi umroh dalam waktu dekat ini. Amin, dariku. Semoga lancar, Sayang.
Dan kedua, adalah kamu yang berkeinginan mencari beasiswa kuliah sampai ke luar negeri. Tunggu, aku banyak berfikir tentang itu, bukan aku yang tidak mendoakan baik untuk kabar kedua ini. Aku hanya berfikir tentang sesuatu yang mereka―dan kamu―bilang itu "Jarak". Akan lebih jauh jarak yang akan kita rasakan bila nanti benar kamu mendapatkan beasiswa sampai ke luar negeri. Namun, apapun itu, aku mendoakan baik untukmu dan kita.
Hmm, kamu sedang mengingatku tidak?
Ah, dia lagi, maaf hatiku ini selalu bertanya, dan merusak tulisan ini jadinya.
Yasudah, aku tidak ingin seperti orang berorasi. Terlalu panjang dan terkadang―bagiku―tidak penting.
Jika kita bertemu nanti, setidaknya, biarkan aku melihat senyum di wajahmu yang memancar cahaya menatapku. Tersenyumlah sampai dunia berjatuhan, meski waktu belum mengizinkan.
Aku berjanji, tak akan hilang semua sabarku untuk menanti waktu itu datang bersama semua rindumu disana.
Aku harap, sampai tulisan akhir ini kamu tetap mengerti. Ini aku, yang mencintaimu.
Dengan segenap rasa di dada,
Rizki
sekarang sudah pernah bertatap muka kaan? ;D
ReplyDelete