Tertampar angin
Derasnya pujian-pujian yang membohongi
Menapaki takdir
Kau tetap begitu, terpojok dan terasingkan
Begini, seorang sastrawan pernah berbicara tentang rasa sakit;
"Rasa sakitmu adalah pecahnya cangkang yang membungkus pemahamanmu.
Kau dapat membiarkan hatimu dalam pengembaraan keajaiban kehidupanmu, rasa sakitmu tidak akan terasa lebih aneh dari pada kebahagiaanmu.
Kau dapat menerima musim-musim dalam hatimu, dan kau akan melihat kepedihan melalui musim dingin kesengsaraanmu
...Kebanyakan dari rasa sakit kau pilih sendiri."
Bagiku, tidak ada yang salah dari semua yang kau pilih.
Kau hanya butuh pulih
Takdir ini perlu kau pilah
Jangan menangis, cantik.
**
Matamu redup
Rintik yang bersiap mengetuk pintu-pintu yang kokoh di dinding kesabaranmu
Menenggelamkanmu
Dalam kesepian
Aku siap hanyut
Jauh hingga entah
Lenyap hingga terserah
Dan mati dalam basah
**
Kepalamu langit
Dan hujan siap membanjiri ladang hatimu yang mulai gersang
Bagaimana pun, dunia tetap berputar
Musim terus berganti
Dan kita akan merenta
Berjanjilah sebagai manusia
Tetaplah cantik
Tetaplah berdoa
Tersenyumlah, jangan dulu redup.
Jakarta. 2014
No comments:
Post a Comment