Ayah, sebenarnya ada alasan kenapa aku menulis ini, kenapa aku tidak berbicara langsung kepadamu. Karena aku tahu Ayah tidak mengizinkan anak perempuanmu mempunyai kekasih. Apalagi kekasih yang seperti aku ini.
Aku tidak memperdulikan itu.
Oiya, Ayah. Aku kan juga memiliki Ayah. Aku tahu seberapa hebat beliau dalam mendidik anak dan mengkristalisasikan keringat menjadi uang untuk menghidupi keluarga, sebagai orang nomor satu dalam keluarga pasti itu berat kan, Ayah? Wah aku sepertinya harus bersiap-siap seperti itu.
Sepertinya bicaraku kurang sopan ya? Padahal jika Ayah membaca tulisan ini—bahkan mungkin tidak akan membaca tulisan ini—ini kan tidak telalu penting untuk Ayah baca. Hanya celotehan anak remaja ingusan yang mencoba merayu Ayah.
---
Pagi tadi aku tidak sengaja melihat kalender kusam ditembok kontrakan kecilku, aku melihat angka bagus disitu. Ya, hari ini tercatat tanggal 13, bulan 12, dan tahun 2011. Sepertinya hari ini sedikit istimewa. Dan lagi, aku membaca tulisan kecil di akun jejaring sosial milik anak perempuanmu. Disitu dia menulis “selamat pagi dan selamat ulang tahun, Ayah. Ajari aku tentang ketenangan batin dan manajemen manusia, kumohon”. Bukankah itu ucapan yang sangat manis yang terlepas dari batin anak tengahmu itu? Iya, dia sangat cantik dalam meracik kata-kata seperti itu.
Dan dari situ aku tidak sengaja tahu bahwa pria gagah—yang mempunyai anak tengah yang begitu bandel—berulang tahun hari ini, ya walaupun aku tidak tahu berapa umur Ayah sekarang.
Untuk itu, dengan segala kerendahan hati dan niat yang mulia, aku—yang mencintai anak tengahmu—mengucapkan selamat ulang tahun untuk Ayah, semoga Tuhan selalu menjaga Ayah dan memberi kepercayaan kepada Ayah untuk menjalani hidup lebih lama lagi. Sekali lagi, selamat ulang tahun Ayah.
Ketika bernafas dan sedikit sakit kepala, 13 Desember 2011
Teruntuk, Ayah—yang semoga menjadi Ayahku juga, kelak
Dari aku—yang mencintai anak tengahmu
mau dibaca berapa kali juga, gue tetep nyengir-nyengir ki kalo baca postingan yang ini X))))
ReplyDelete