Aku membenahi rumah yang telah lama ditinggalkan
ditanggalkan dengan penuh debu
riwayat amarah tak kenal sebab
yang larut bersama hari
Seperti telah lama tidur
dari kepura-puraan yang terlalu lemah
menjadikan diri sebagai perdu
di antara mereka yang menjelma dengan rindang
Kusebut kau sebagai takdir
bukan karma yang berputar di dinding dosa
aku masih bisa hidup tanpamu
tetapi puisi benci ketidakjujuran
Kecup di seluruh tubuhku
melelehkan rincu di kepalaku
paduk yang harus kita selesaikan
dan permainan yang dimulai dengan cinta
Bukan perkara mudah untuk selalu di sampingmu
tapi aku tidak pernah sekeras ini
sebagai lemah yang mampus dikuasai lelah
aku menanggungmu sebagai doa juga dosa
Tunggu, Non. Aku akan terus menemukanmu
pun gelap tak mengenal baik buruknya penglihatan
jari-jari yang siap menggenggam
takkan kubiarkan matamu tenggelam
Jakarta, 7 Mei 2015
Thursday, May 7, 2015
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment